Kamis, 24 Oktober 2013

Red Dawn

Kalian yang masih muda sekarang mungkin tidak pernah tumbuh dalam era perang dingin sehingga tidak tahu betapa tingginya tensi dunia di tahun 1970-1980an. Pada masa ini dua paham yang berseberangan: komunis dan liberal yang dipimpin oleh Amerika dan Uni Soviet saling bersaing dalam memajukan teknologi mereka dan menyimpan senjata hulu nuklir. Ingat kan dalam sejarah Indonesia yang tidak ingin tergabung dalam dua paham tersebut lantas mengambil gerakan Non-Blok? Nah di tengah tensi yang sedang meninggi antara negeri Paman Sam dan negeri Beruang Merah itu muncul film tahun 1984 yang dibintangi oleh para bintang remaja saat itu seperti Patrick Swayze dan Charlie Sheen berjudul Red Dawn. Film tersebut mengisahkan invasi Russia di kota-kota di Amerika jelas bersifat sebagai alat bantu propaganda Hollywood yang berusaha menjual image komunis dan sosialis adalah orang jahat.
Dunia tentunya sudah berubah semenjak dua dekade yang lalu. Uni Soviet sudah terpecah belah dan paham komunis sepertinya tak lagi sekuat dahulu – terbukti dengan Russia, Cina, dan Amerika sebagai tiga negeri adidaya saat ini malah saling bantu membantu (demi uang tentu saja dan juga karena Amerika sudah menemukan wajah teror baru dalam agama Islam). Satu-satunya kiblat komunis yang masih kuat di dunia tinggallah Korea Utara yang masih menutup dirinya dari dunia luar. Sebuah game dari THQ yang berjudul Homefront pernah mengangkat kisah invasi pasukan Korea Utara ke Amerika di mana kamu berperan sebagai prajurit gerilyawan yang berjuang mengambil balik kebebasan negerimu. Uniknya Homefront sendiri sebenarnya mengambil inspirasi dari film Red Dawn. Nah lebih uniknya lagi Red Dawn remake yang digarap pada tahun 2010 tetapi perilisannya tertunda hingga 2012 karena kesulitan finansial MGM ini konon terinspirasi dari Homefront juga.
Hollywood bukan industri yang bodoh. Film adalah sesuatu yang menelan biaya besar dan mereka ingin bisa mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Red Dawn remake semula memposisikan Cina sebagai negeri yang menginvasi Amerika akan tetapi setelah menyadari besarnya potensi Cina sebagai pasar internasional maka studio memaksa film ini mengubah ceritanya dari invasi Cina menjadi Korea Utara. Licik? Saya rasa cerdik lebih tepat.
Ah sudah tiga paragraf berjalan dan saya kok belum juga menyinggung mengenai filmnya. Yah mungkin karena kisah di balik film ini sendiri malahan lebih seru untuk diangkat ketimbang filmnya.
Red Dawn Poster
Opening dari film ini sendiri sangat – sangat mirip dengan Homefront (mainkanlah game tersebut lalu nonton film ini dan saya jamin kalian akan terus membanding-bandingkannya) di mana sutradara Dan Bradley menggunakan berita-berita aktual seperti kebangkrutan negeri-negeri Eropa, krisis moneter yang menimpa Amerika, ditambah dengan peralihan generasi kepimpinan di Korea Utara sebagai justifikasi plot nyeleneh Korea Utara yang menyerang negeri Paman Sam. Daripada menyorot seluruh Amerika yang diinvasi, Red Dawn memfokuskan perhatian mereka di kota Spokane dan keluarga Eckert.
Jed Eckert yang baru saja meninggalkan tugas wajib militernya pulang kepada adiknya Matt Eckert yang sudah asing darinya. Setelah invasi terjadi di hari berikutnya dua bersaudara Eckert ini terpisah dari ayah mereka. Bersama dengan beberapa teman mereka masih sempat melarikan diri ke luar kota dan lolos dari invasi pasukan Korea Utara yang membuat seluruh Spokane dibarikade. Sementara para penduduk Amerika perlahan-lahan dicuci otak oleh propaganda komunis sekumpulan pemuda yang ada di luar kota tersebut menyusun kekuatan mereka untuk menjadi gerilyawan The Wolverines dan menyerbu balik. Bisakah serangan-serangan kecil dan sporadis tersebut membangkitkan semangat rakyat untuk merebut kembali kemerdekaan mereka?
We are the guerilla troops… We are the WOLVERINE!
Dan Bradley adalah sutradara debutan yang berusaha untuk mengangkat dua topik secara bersamaan: yang pertama ingin diusung oleh film ini adalah rasa patriot kepada bangsa saat mereka diinvasi oleh negara lain sementara yang kedua adalah aksi baku tembak yang seru ala video game. Dan dalam dua hal ini Bradley gagal total. Red Dawn punya potensi menjadi film thriller yang seru (ala Argo), film yang penuh sindiran sosial (ala Dawn of the Dead), maupun film perang yang epik (ala Saving Private Ryan). Akan tetapi hasilnya adalah versi live-action Call of Duty yang gagal mencapai potensi maksimumnya.
Plot yang diusung oleh Dan Bradley terlalu tipis dan digampangkan. Saya garuk-garuk kepala kebingungan melihat bagaimana militer Korea Utara begitu mudahnya dibodohi oleh sekumpulan anak-anak ingusan yang paling-paling belajar ilmu militer dalam waktu sebulan bahkan kurang. Kemudahan anak-anak itu keluar masuk dari barikade militer menjadikan film ini semakin menggelikan, terutama karena ini seharusnya bisa menjadi sumber dari ketegangan dalam film (ala Argo). Plot cerita juga terlalu mengagung-agungkan Amerika dengan Jed Eckert bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa operasi militernya (baca: ‘invasi Amerika’) ke negeri lain adalah bertujuan sebagai orang baik demi menciptakan kedamaian di negara tersebut. Cerita akan menjadi lebih enak dinikmati bila Jed misalnya saja dibuat bertanya-tanya apakah operasi militernya selama ini juga memiliki dampak yang sama terhadap negara-negara yang diduduki Amerika. Sekali lagi skenario cerita melewatkan semua itu.
Do you know that I'm the God of Thunder? Well, in another life…
Yang penting? Dor. Dor. Dor. Jangan terlalu pusing dengan karakter-karakter yang ada di film ini karena di luar dua bersaudara Eckert bersama kekasih mereka (ya dua gadis di sini diperankan dua hotties Adrianne Palicki dan Isabel Lucas) mungkin hanya Josh Hutcherson yang berperan sebagai Robert Kitner yang meninggalkan kesan. Itu pun bukan karena sosoknya sebagai Kitner tetapi karena popularitas Hutcherson yang menjulang seusai The Hunger Games (di mana Hutcherson di sana berperan sebagai rival cinta dari Liam Hemsworth – adik dari Chris Hemsworth). Pada akhirnya Red Dawn hanya bisa menggali sedikit dari potensi kisahnya dengan adegan-adegan baku tembak yang cukup seru, terutama dengan gaya sinematografi Bradley yang mengambil sudut campuran ala video game dan semi-dokumenter (syuting bagian endingnya brilian!). Amat disayangkan!
So my verdict is… Red Dawn memiliki durasi tayang yang terlalu pendek, karakter yang terlalu tidak memorable, dan kisah yang terlalu sederhana dan digampangkan. Kalaupun ia lumayan sukses di box office itu hanya kecipratan berkat dari pamor Chris Hemsworth dan Josh Hutcherson yang meninggi setelah The Avengers dan The Hunger Games, bukan karena kualitas filmnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar