Kalian yang masih muda sekarang mungkin tidak pernah tumbuh dalam era
perang dingin sehingga tidak tahu betapa tingginya tensi dunia di tahun
1970-1980an. Pada masa ini dua paham yang berseberangan: komunis dan
liberal yang dipimpin oleh Amerika dan Uni Soviet saling bersaing dalam
memajukan teknologi mereka dan menyimpan senjata hulu nuklir. Ingat kan
dalam sejarah Indonesia yang tidak ingin tergabung dalam dua paham
tersebut lantas mengambil gerakan Non-Blok? Nah di tengah tensi yang
sedang meninggi antara negeri Paman Sam dan negeri Beruang Merah itu
muncul film tahun 1984 yang dibintangi oleh para bintang remaja saat itu
seperti Patrick Swayze dan Charlie Sheen berjudul Red Dawn.
Film tersebut mengisahkan invasi Russia di kota-kota di Amerika jelas
bersifat sebagai alat bantu propaganda Hollywood yang berusaha menjual
image komunis dan sosialis adalah orang jahat.
Dunia tentunya sudah berubah semenjak dua dekade yang lalu. Uni
Soviet sudah terpecah belah dan paham komunis sepertinya tak lagi sekuat
dahulu – terbukti dengan Russia, Cina, dan Amerika sebagai tiga negeri
adidaya saat ini malah saling bantu membantu (demi uang tentu saja dan
juga karena Amerika sudah menemukan wajah teror baru dalam agama Islam).
Satu-satunya kiblat komunis yang masih kuat di dunia tinggallah Korea
Utara yang masih menutup dirinya dari dunia luar. Sebuah game dari THQ
yang berjudul Homefront pernah mengangkat kisah invasi
pasukan Korea Utara ke Amerika di mana kamu berperan sebagai prajurit
gerilyawan yang berjuang mengambil balik kebebasan negerimu. Uniknya
Homefront sendiri sebenarnya mengambil inspirasi dari film Red Dawn. Nah
lebih uniknya lagi Red Dawn remake yang digarap pada tahun 2010 tetapi
perilisannya tertunda hingga 2012 karena kesulitan finansial MGM ini
konon terinspirasi dari Homefront juga.
Hollywood bukan industri yang bodoh. Film adalah sesuatu yang menelan
biaya besar dan mereka ingin bisa mengeruk keuntungan
sebanyak-banyaknya. Red Dawn remake semula memposisikan Cina sebagai
negeri yang menginvasi Amerika akan tetapi setelah menyadari besarnya
potensi Cina sebagai pasar internasional maka studio memaksa film ini
mengubah ceritanya dari invasi Cina menjadi Korea Utara. Licik? Saya
rasa cerdik lebih tepat.
Ah sudah tiga paragraf berjalan dan saya kok belum juga menyinggung
mengenai filmnya. Yah mungkin karena kisah di balik film ini sendiri
malahan lebih seru untuk diangkat ketimbang filmnya.
Opening dari film ini sendiri sangat – sangat mirip dengan Homefront
(mainkanlah game tersebut lalu nonton film ini dan saya jamin kalian
akan terus membanding-bandingkannya) di mana sutradara Dan Bradley
menggunakan berita-berita aktual seperti kebangkrutan negeri-negeri
Eropa, krisis moneter yang menimpa Amerika, ditambah dengan peralihan
generasi kepimpinan di Korea Utara sebagai justifikasi plot nyeleneh
Korea Utara yang menyerang negeri Paman Sam. Daripada menyorot seluruh
Amerika yang diinvasi, Red Dawn memfokuskan perhatian mereka di kota
Spokane dan keluarga Eckert.
Jed Eckert yang baru saja meninggalkan tugas wajib militernya pulang
kepada adiknya Matt Eckert yang sudah asing darinya. Setelah invasi
terjadi di hari berikutnya dua bersaudara Eckert ini terpisah dari ayah
mereka. Bersama dengan beberapa teman mereka masih sempat melarikan diri
ke luar kota dan lolos dari invasi pasukan Korea Utara yang membuat
seluruh Spokane dibarikade. Sementara para penduduk Amerika
perlahan-lahan dicuci otak oleh propaganda komunis sekumpulan pemuda
yang ada di luar kota tersebut menyusun kekuatan mereka untuk menjadi
gerilyawan The Wolverines dan menyerbu balik. Bisakah serangan-serangan
kecil dan sporadis tersebut membangkitkan semangat rakyat untuk merebut
kembali kemerdekaan mereka?
Dan Bradley adalah sutradara debutan yang berusaha untuk mengangkat
dua topik secara bersamaan: yang pertama ingin diusung oleh film ini
adalah rasa patriot kepada bangsa saat mereka diinvasi oleh negara lain
sementara yang kedua adalah aksi baku tembak yang seru ala video game.
Dan dalam dua hal ini Bradley gagal total. Red Dawn punya potensi
menjadi film thriller yang seru (ala Argo), film yang penuh sindiran
sosial (ala Dawn of the Dead), maupun film perang yang epik (ala Saving
Private Ryan). Akan tetapi hasilnya adalah versi live-action Call of
Duty yang gagal mencapai potensi maksimumnya.
Plot yang diusung oleh Dan Bradley terlalu tipis dan digampangkan.
Saya garuk-garuk kepala kebingungan melihat bagaimana militer Korea
Utara begitu mudahnya dibodohi oleh sekumpulan anak-anak ingusan yang
paling-paling belajar ilmu militer dalam waktu sebulan bahkan kurang.
Kemudahan anak-anak itu keluar masuk dari barikade militer menjadikan
film ini semakin menggelikan, terutama karena ini seharusnya bisa
menjadi sumber dari ketegangan dalam film (ala Argo).
Plot cerita juga terlalu mengagung-agungkan Amerika dengan Jed Eckert
bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa operasi militernya (baca:
‘invasi Amerika’) ke negeri lain adalah bertujuan sebagai orang baik
demi menciptakan kedamaian di negara tersebut. Cerita akan menjadi lebih
enak dinikmati bila Jed misalnya saja dibuat bertanya-tanya apakah
operasi militernya selama ini juga memiliki dampak yang sama terhadap
negara-negara yang diduduki Amerika. Sekali lagi skenario cerita
melewatkan semua itu.
Yang penting? Dor. Dor. Dor. Jangan terlalu pusing dengan
karakter-karakter yang ada di film ini karena di luar dua bersaudara
Eckert bersama kekasih mereka (ya dua gadis di sini diperankan dua hotties
Adrianne Palicki dan Isabel Lucas) mungkin hanya Josh Hutcherson yang
berperan sebagai Robert Kitner yang meninggalkan kesan. Itu pun bukan
karena sosoknya sebagai Kitner tetapi karena popularitas Hutcherson yang
menjulang seusai The Hunger Games (di mana Hutcherson
di sana berperan sebagai rival cinta dari Liam Hemsworth – adik dari
Chris Hemsworth). Pada akhirnya Red Dawn hanya bisa menggali sedikit
dari potensi kisahnya dengan adegan-adegan baku tembak yang cukup seru,
terutama dengan gaya sinematografi Bradley yang mengambil sudut campuran
ala video game dan semi-dokumenter (syuting bagian endingnya brilian!).
Amat disayangkan!
So my verdict is… Red Dawn memiliki durasi tayang yang
terlalu pendek, karakter yang terlalu tidak memorable, dan kisah yang
terlalu sederhana dan digampangkan. Kalaupun ia lumayan sukses di box
office itu hanya kecipratan berkat dari pamor Chris Hemsworth dan Josh
Hutcherson yang meninggi setelah The Avengers dan The Hunger Games, bukan karena kualitas filmnya sendiri.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar